Minggu, 29 Maret 2009

PASAR GEDE SOLO

Pasar Gedhe

Agak aneh ya jalan-jalan di sebuah pasar? Bosan jalan-jalan di mal? Coba cari alternatif lain, iseng-iseng masuk ke pasar tradisional. Banyak hal yang bisa ditemui di sini, keramahan lokal setempat, budaya, bahasa, dan proses tawar menawar barang yang menjadi esensi sebuah transaksi terlihat kental di sini.

Pasar Gedhe merupakan pasar tradisional terbesar di Solo. Dahulu kala, pasar ini merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang bernama Balai Kota Surakarta. Bangunan ini di desain oleh arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten yang selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhe Hardjanagara. Diberi nama Pasar Gedhe karena terdiri dari atap yang besar.

Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Masing masing terdiri dari dua lantai. Bangunan kedua dari Pasar Gedhe, digunakan sebagai pasar buah. Arsitektur Pasar Gedhe merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya tradisional Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gedhe mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949, dan mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu.

Di dalam pasar, terdapat los-los penjual yang dibagi dalam blok-blok. Yang menarik di sini adalah keberadaan los penjual daging dan ikan. Karsten tampaknya memperhitungkan keberadaan lalat di bagian daging dalam suatu pasar. Dan ia melihat ternyata lalat maksimum terbang setinggi 3 meter, sehingga keberadaan los daging yang berada di lantai 2 terhindar dari kerumunan lalat.

Pasar Gedhe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar