Minggu, 29 Maret 2009

HOTEL - HOTEL SOLO

Novotel Solo Hotel

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

13 Ulasan Pelanggan

Para tamu akan menemukan ruangan bebas rokok, penyejuk udara, koran harian, film in-house, pengering rambut, akses internet menanti di setiap... Lebih lanjut

Lor In Hotel

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

Para tamu akan mendapatkan semua amenity terbaik di setiap kamar 112 di hotel bintang-3 yang populer ini. Beberapa fitur yang akan Anda nikmati... Lebih lanjut

Ibis Solo Hotel

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

2 Ulasan Pelanggan

Properti yang memesona ini telah lama menjadi favorit di Solo (surakarta) baik untuk pelancong bisnis maupun rekreasi. Pemesanan di Ibis Solo Hotel... Lebih lanjut

Sahid Kusuma Hotel

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

2 Ulasan Pelanggan

Fitur yang ditonjolkan di setiap kamar, di antara amenity lainnya, yaitu penyejuk udara, jubah mandi, koran harian, mini bar, balkon/teras, TV... Lebih lanjut

Sahid Raya Hotel

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

Semua kamar memiliki penyejuk udara, film in-house, pengering rambut, televisi, bak mandi, shower sebagaimana amenity lainnya. Hotel ini... Lebih lanjut

Comfort Inn Hotel

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

1 Ulasan Pelanggan

Semua kamar memiliki penyejuk udara, koran harian, kotak penyimpanan dalam-kamar, televisi, mini bar sebagaimana amenity lainnya. Hotel yang luar... Lebih lanjut

The Sunan Hotel Solo

Lokasi: Not Specified

tunjukkan tarif

Semua kamar memiliki penyejuk udara, kotak penyimpanan dalam-kamar, televisi, mini bar, pembuat kopi/teh sebagaimana amenity lainnya. Layanan kamar... Lebih lanjut

Hotel yang dipertunjukkan setiap laman: 10 20

MUSEUM BATIK KUNO

Museum Batik Kuno

Tinggal cukup lama di Solo bukan berarti tahu semuanya tentang kota ini. Buktinya baru beberapa minggu lalu saya menemukan suatu tempat yang unik. Museum Batik Kuno. Itupun dalam rangka menemani seorang rekan yang akan membuat profil museum. Padahal letaknya strategis di Jalan Slamet Riyadi, jalan utama yang pasti dilewati semua orang. Dan ada petunjuk segede gaban di pinggir jalan, terlalu…

Museum Batik ini dikelola oleh pihak swasta, persembahan salah satu produsen batik terkenal, Danar Hadi. Untuk masuk ke dalam museum, dapat melalui toko batiknya, setelah membayar tiket sebesar 15 ribu rupiah, kita akan diantar oleh guide untuk masuk ke dalam museum. Memasuki ruangan museum yang sejuk akan disambut wewangian yang khas dari campuran kembang dan rempah rempah pewangi. Khas wewangian keraton. Di sekeliling ruangan tertata rapi koleksi koleksi batik yang dikelompokkan berdasarkan pengaruh zaman, lokasi dan budaya pada waktu tertentu.

Koleksi Batik Belanda dipengaruhi oleh budaya kolonial sekitar tahun 1800 an, polanya berupa bunga, burung, dan ada yang dipengaruhi cerita cerita seperti puteri salju, topi merah. Dari pengaruh Cina, lahirlah Batik Cina yang khas dengan warna krem, merah, merah muda. Pada tahun 1942-1945 menelurkan Batik Djawa Hokokai, yang dipengaruhi ornamen kimono Jepang. Budaya India juga memberi pengaruh pada koleksi Batik India. Museum ini mempunyai koleksi dari Keraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang masing-masing memiliki ciri khas khusus. Di samping koleksi Batik Danar Hadi sendiri, juga terdapat koleksi batik Nusantara, seperti Batik Pekalongan, Batik Lampung, Batik Palembang, Batik Madura, Batik Cirebon, Batik Banyumas, Batik Tulungagung, Batik Wonogiri. Batik Nasional yang dipengaruhi berbagai unsur budaya Nusantara melahirkan Batik Indonesia.

Di bagian lain dari museum terdapat tampilan untuk bahan bahan pembuat batik, yang disajikan dalam toples toples kaca. Agak ke belakang dari museum, kita dapat melihat proses pembuatan batik, baik batik tulis maupun batik cap yang dikerjakan secara tradisional. Terdapat pula proses pengeringan, pembuatan pola baju dan sampai menjadi busana siap pakai.

Museum Batik Kuno ini merupakan museum dengan koleksi batik terlengkap di Indonesia. Dengan dikelola secara profesional, diharapkan dapat ikut melestarikan budaya lokal setempat dan menjadi aset berharga kota Solo yang salah satu unsur budayanya adalah seni batik.

Museum Batik Kuno

TASIKMADOE KARANGANYAR

Spoor Teboe

Kereta api yang digerakkan dengan tenaga uap ini berada dalam lingkungan agrowisata Sondokoro, tepatnya di dalam kompleks Pabrik Gula Tasikmadu PTPN IX, Karanganyar. Kereta tua pengangkut tebu ini sudah beroperasi sejak awal abad 20, sekitar tahun 1920an dan masih terjaga staminanya di abad 21 ini. Hanya sekarang sudah tidak digunakan sebagai pengangkut tebu lagi tapi dialihfungsikan sebagai kereta wisata.

Dengan membayar karcis sebesar 5000 rupiah, penumpang diajak berkeliling kompleks pabrik gula yang notabene merupakan bangunan-bangunan kuno jaman Belanda. Sambil sekali-kali terdengar nyaring suara peluit khas kereta uap, yang terkadang menyemburkan air sehingga beberapa penumpang bagian depan ikut terciprat air. Suatu pengalaman yang unik, dan cocok untuk para penggemar kereta api tua.

Spoor Teboe

TIRTO PENGGING

Tirto Pengging

Bagaimana rasanya raja-raja jaman dulu mempunyai kolam renang sendiri dan berenang bersama kerabat dan keluarganya? Jangan dibayangkan dengan kolam renang modern yang memakai keramik atau marmer pada bagian dasarnya. Kolam renang jaman dulu ini berupa kumpulan mata air yang dilokasikan menjadi suatu pemandian, sehingga dasar kolamnya berupa kumpulan batu-batu alam.

Tirto Pengging ini terletak di Kabupaten Boyolali tepatnya di Kecamatan Banyudono. Daerah Boyolali terkenal dengan banyaknya mata air atau umbul, sebutan masyarakat sekitar. Umbul ini pada jaman dahulu hanya dipergunakan oleh Raja-Raja dan keluarganya dari Kraton Kasunanan. Pemandian ini dibangun pada jaman Pakubuwono X. Air umbul ini jernih dan sejuk, dan sumber mata air ini mengalir terus dan tidak kering walau musim kemarau.

Tirto Pengging

PASAR GEDE SOLO

Pasar Gedhe

Agak aneh ya jalan-jalan di sebuah pasar? Bosan jalan-jalan di mal? Coba cari alternatif lain, iseng-iseng masuk ke pasar tradisional. Banyak hal yang bisa ditemui di sini, keramahan lokal setempat, budaya, bahasa, dan proses tawar menawar barang yang menjadi esensi sebuah transaksi terlihat kental di sini.

Pasar Gedhe merupakan pasar tradisional terbesar di Solo. Dahulu kala, pasar ini merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang bernama Balai Kota Surakarta. Bangunan ini di desain oleh arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten yang selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhe Hardjanagara. Diberi nama Pasar Gedhe karena terdiri dari atap yang besar.

Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah. Masing masing terdiri dari dua lantai. Bangunan kedua dari Pasar Gedhe, digunakan sebagai pasar buah. Arsitektur Pasar Gedhe merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya tradisional Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gedhe mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949, dan mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu.

Di dalam pasar, terdapat los-los penjual yang dibagi dalam blok-blok. Yang menarik di sini adalah keberadaan los penjual daging dan ikan. Karsten tampaknya memperhitungkan keberadaan lalat di bagian daging dalam suatu pasar. Dan ia melihat ternyata lalat maksimum terbang setinggi 3 meter, sehingga keberadaan los daging yang berada di lantai 2 terhindar dari kerumunan lalat.

Pasar Gedhe

KOTA- KOTA



SOLO DULU